Prinsip Bushido


Setiap kebudayaan dunia memiliki ciri khasnya masing masing. Prinsip prinsip kehidupan yang tak jauh dari sendi kehidupan manusia. Kali ini saya akan membahas tentang sebuah prinsip hidup yang menarik untuk di pelajari. Berasal dari negeri matahari terbit, Jalan hidup ini telah melekat menjadi kepribadian dan ciri khas orang orang yang di kenal sangat disiplin ini.
berasal dari jaman Kamakura (Tahun1185-1333), terus berkembang mencapai jaman Edo (Tahun 1603-1867). Pada zaman era kerajaan Tokugawa, prinsip bushido banyak di pengaruhi  ajaran shinto dan Bhudisme zen yang sangat mempengaruhi pola hidup para samurai. Kehidupan yang di dasari pada kekerasan yang di padukan dengan kelembutan serta ketenangan. Terciptalah sebuah prinsip hidup yang bernama Bushido.
Di kutip dari id.wikipedia.org/wiki/Bushido. Bushido (Kanji: 武士道 "tatacara ksatria") adalah sebuah kode etik keksatriaan golongan Samurai dalam feodalisme Jepang. Bushido berasal dari nilai-nilai moral samurai, paling sering menekankan beberapa kombinasi dari kesederhanaan, kesetiaan, penguasaan seni bela diri, dan kehormatan sampai mati.
Bushido berasal dari dua dasar kata, dimana “Bushi” yang berarti kesatria dan “Do” yang berarti jalan/tata cara/kode etik. Kata “Bushi” dapat di bagi lagi menjadi kata “Bu” yang berarti untuk menghentikan, dimana definisi dari kata “Bu” ini adalah menghindari terjadinya kekerasan dan penggunaan senjata. Sementara kata “Shi” yang dapat diartikan sebagai seseorang yang mempunyai peringkat dengan cara belajar. Namun arti kata “Bushi” sepertinya untuk memberikan arti “setiap orang yang menjaga kedamaian baik secara diplomatis maupun dengan penggunaan senjata. Sehingga secara keseluruhan arti kata “Bushido” dapat berarti suatu jalan atau metode untuk menjaga perdamaian yang dilakukan secara diplomasi maupun menggunakan senjata.
Bushido mengajarkan tentang kesetiaan, etika, sopan santun, tata krama, disiplin, kerelaan berkorban, kerja keras, kebersihan, hemat, kesabaran, ketajaman berpikir, kesederhaanan, kesehatan jasmani dan rohani. (Surajaya dalam Beasley, 2003: xx)

7 PRINSIP BUSHIDO JEPANG YANG BISA KITA CONTOH

1. Gi (義 – Integritas)
Menjaga Kejujuran
Seorang Samurai senantiasa mempertahankan etika, moralitas, dan kebenaran. Integritas merupakan nilai Bushido yang paling utama. Kata integritas mengandung arti jujur dan utuh.
Keutuhan yang dimaksud adalah keutuhan dari seluruh aspek kehidupan, terutama antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Nilai ini sangat dijunjung tinggi dalam falsafah bushido, dan merupakan dasar bagi insan manusia untuk lebih mengerti tentang moral dan etika.
“Seorang ksatria harus paham betul tentang yang benar dan yang salah, dan berusaha keras melakukan yang benar dan menghindari yang salah. Dengan cara itulah bushido biasa hidup.” -Taira Shigesuke
2. Yū (勇 – Keberanian)
Berani dalam menghadapi kesulitan
Keberanian merupakan sebuah karakter dan sikap untuk bertahan demi prinsip kebenaran yang dipercayai meski mendapat berbagai tekanan dan kesulitan. Keberanian juga merupakan ciri para samurai, mereka siap dengan risiko apapun termasuk mempertaruhkan nyawa demi memperjuangkan keyakinan.
Keberanian mereka tercermin dalam prinsipnya yang menganggap hidupnya tidak lebih berharga dari sebuah bulu. Namun demikian, keberanian samurai tidak membabibuta, melainkan dilandasi latihan yang keras dan penuh disiplin.
“Pastikan kau menempa diri dengan latihan seribu hari, dan mengasah diri dengan latihan selama ribuan hari”. -Miyamoto Musashi
3. Jin (仁 – Kemurahan hati)
Memiliki sifat kasih sayang
Bushido memiliki aspek keseimbangan antara maskulin (yin) dan feminin (yang) . Jin mewakili sifat feminin yaitu mencintai. Meski berlatih ilmu pedang dan strategi berperang, para samurai harus memiliki sifat mencintai sesama, kasih sayang, dan peduli.
Kasih sayang dan kepedulian tidak hanya ditujukan pada atasan dan pimpinan namun pada kemanusiaan. Sikap ini harus tetap ditunjukan baik di siang hari yang terang benderang, maupun di kegelapan malam. Kemurahan hati juga ditunjukkan dalam hal memaafkan.
”Jadilah yang pertama dalam memaafkan.” -Toyotomi Hideyoshi
4. Rei (礼 – Menghormati)
Hormat Kepada Orang Lain
Seorang Samurai tidak pernah bersikap kasar dan ceroboh, namun senantiasa menggunakan kode etiknya secara sempurna sepanjang waktu.
Sikap santun dan hormat tidak saja ditujukan pada pimpinan dan orang tua, namun kepada tamu atau siap pun yang ditemui.
Sikap santun meliputi cara duduk, berbicara, bahkan dalam memperlakukan benda ataupun senjata.
”Apakah kau sedang berjalan, berdiri diam, sedang duduk, atau sedang bersandar, di dalam perilaku dan sikapmu lah kau membawa diri dengan cara yang benar-benar mencerminkan prajurit sejati." -Taira Shigesuke
5. Makoto atau (信 – Shin Kejujuran) dan Tulus-Ikhlas
Bersikap Tulus & Ikhlas
Seorang Samurai senantiasa bersikap Jujur dan Tulus mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran.
Para ksatria harus menjaga ucapannya dan selalu waspada tidak menggunjing, bahkan saat melihat atau mendengar hal-hal buruk tentang kolega.
Samurai mengatakan apa yang mereka maksudkan, dan melakukan apa yang mereka katakan. Mereka membuat janji dan berani menepatinya.
”Perkataan seorang samurai lebih kuat daripada besi.” -Taira Shigesuke
6. Meiyo (名誉 – Kehormatan)
Menjaga Kehormatan Diri
Bagi samurai cara menjaga kehormatan adalah dengan menjalankan kode bushido secara konsisten sepanjang waktu dan tidak menggunakan jalan pintas yang melanggar moralitas.
Seorang samurai memiliki harga diri yang tinggi, yang mereka jaga dengan cara prilaku terhormat. Salah satu cara mereka menjaga kehormatan adalah tidak menyia-nyiakan waktu dan menghindari prilaku yang tidak berguna.
”Jika kau di depan publik, meski tidak bertugas, kalau tidak boleh sembarangan bersantai. Lebih baik kau membaca, berlatih kaligrafi, mengkaji sejarah, atau tatakrama keprajuritan.” -Taira Shigesuke
7. Chūgo (忠義 – Loyal)
Menjaga Kesetiaan Kepada Satu Pimpinan Dan Guru
Kesetiaan ditunjukkan dengan dedikasi yang tinggi dalam melaksanakan tugas. Kesetiaan seorang ksatria tidak saja saat pimpinannya dalam keadaan sukses dan berkembang.Bahkan dalam keadaaan sesuatu yang tidak diharapkan terjadi, pimpinan mengalami banyak beban permasalahan, seorang ksatria tetap setia pada pimpinannya dan tidak meninggalkannya.
"Puncak kehormatan seorang samurai adalah mati dalam menjalankan tugas dan perjuangan." -Taira Shigesuke

Dengan menerapkan prinsip-prinsip diatas dalam kehidupan sehari-hari kita, dengan ditambah dengan nilai spiritual dan keimanan yang kuat, niscahya kita akan menjadi individu yang kuat dan handal dalam menjalani hidup,

Comments